bagusplace – Kabut asap Banjarbaru akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi perhatian serius menjelang berakhirnya masa pembelajaran jarak jauh. Kondisi asap yang kembali terasa pekat membuat sejumlah orang tua berharap sekolah tidak terburu-buru mengembalikan seluruh siswa ke pembelajaran tatap muka.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Banjarbaru mencatat kebakaran masih terjadi di beberapa wilayah, sementara kabut asap kembali menyelimuti kota pada Rabu pagi, 2 September 2026.
Situasi ini membuat pilihan antara PJJ dan pembelajaran tatap muka atau PTM menjadi dilema baru. Sekolah perlu menjaga kualitas pembelajaran, tetapi pada saat yang sama kesehatan siswa tetap menjadi pertimbangan utama.
Kondisi kabut asap Banjarbaru berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di sejumlah titik. BPBD Kota Banjarbaru menyebut luas lahan terdampak karhutla selama sekitar dua bulan terakhir telah mencapai 1.263,2 hektare.
Jumlah titik api memang menunjukkan kecenderungan berkurang. Namun, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru Zaini Syahranie mengatakan hotspot baru masih muncul, terutama di Kecamatan Cempaka.
BPBD mencatat dua hotspot kategori tinggi berada di Kecamatan Cempaka. Sementara itu, titik panas kategori sedang masih terpantau di Landasan Ulin dan Liang Anggang.
Karena itu, menurunnya jumlah titik api belum berarti ancaman karhutla telah selesai. Asap dari lahan yang masih terbakar atau bara di kawasan gambut tetap dapat memengaruhi kondisi udara, terutama pada waktu tertentu.
Kabut asap kembali terlihat di beberapa wilayah Banjarbaru pada Rabu pagi. BPBD pun meminta warga meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan aktivitas di luar rumah, khususnya pada pagi hari.
Petugas juga terus mengingatkan masyarakat agar memakai masker ketika kondisi asap meningkat. Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan langsung saat warga harus berada di luar ruangan.
Bagi anak sekolah, kondisi pagi menjadi perhatian lebih besar karena perjalanan menuju sekolah biasanya berlangsung pada jam ketika asap masih terasa.
Oleh sebab itu, sebagian sekolah sebelumnya memilih menggeser jam masuk. Pemerintah Kota Banjarbaru bahkan sempat mengubah waktu mulai sekolah dari pukul 07.30 menjadi pukul 09.00 WITA ketika gangguan asap mulai meningkat pada Agustus 2026.
Di tengah kondisi tersebut, pilihan melanjutkan PJJ mendapatkan dukungan dari sebagian orang tua siswa.
Salah satu gambaran terlihat di SDN 4 Syamsudin Noor. Berdasarkan survei sekolah, lebih dari 50 persen orang tua sebelumnya memilih pembelajaran jarak jauh dibandingkan PTM ketika kabut asap masih menyelimuti wilayah sekitar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran orang tua tidak hanya berkaitan dengan proses belajar. Mereka juga mempertimbangkan perjalanan anak dari rumah menuju sekolah serta paparan udara ketika siswa berada di lingkungan terbuka.
Namun, sekolah tetap perlu memperhatikan efektivitas pembelajaran. Sebab, PJJ juga membawa tantangan tersendiri bagi siswa, guru, dan keluarga.
SDN 4 Syamsudin Noor kemudian menyiapkan survei baru kepada orang tua setelah melakukan evaluasi bersama Dinas Pendidikan.
Sekolah memberikan dua opsi, yaitu melanjutkan PJJ atau kembali menjalankan PTM secara terbatas. Dengan demikian, keputusan tidak hanya mempertimbangkan kepentingan akademik, tetapi juga kondisi udara di lingkungan sekolah.
Apabila PTM terbatas dipilih, siswa dapat datang sekitar pukul 08.30 hingga 09.00 WITA. Namun, sekolah tetap akan melihat tingkat kepekatan asap pada hari tersebut sebelum menjalankan kegiatan belajar.
Durasi belajar juga akan dipangkas. Siswa kelas rendah direncanakan pulang sekitar pukul 12.00 WITA, sedangkan kelas yang lebih tinggi menyelesaikan pembelajaran setelah salat Zuhur.
Skema ini menunjukkan bahwa sekolah mulai mencari jalan tengah. Kegiatan belajar tetap berlangsung, tetapi waktu siswa berada di luar rumah dapat dikurangi.
Kebijakan PJJ sebenarnya bukan hal baru selama periode kabut asap Banjarbaru tahun ini.
Pemerintah Kota Banjarbaru sebelumnya menerapkan PJJ di seluruh satuan pendidikan mulai 24 sampai 28 Agustus 2026. Kebijakan itu lahir setelah kualitas udara terdampak asap karhutla dan aktivitas siswa dinilai perlu disesuaikan.
Selanjutnya, Dinas Pendidikan memperpanjang PJJ selama tiga hari, yakni mulai 31 Agustus hingga 2 September 2026. Kebijakan tersebut berlaku untuk berbagai jenjang pendidikan, termasuk TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta.
Selama PJJ, jadwal pembelajaran tetap mengikuti pola belajar normal. Meski siswa belajar dari rumah, sekolah tetap menjalankan kegiatan pendidikan dengan skema yang menyesuaikan kemampuan masing-masing satuan pendidikan.
Dengan kata lain, PJJ bukan berarti siswa mendapatkan libur tambahan. Metode pembelajaran berubah sementara agar proses belajar dapat terus berjalan di tengah kondisi lingkungan yang kurang ideal.
Meskipun sebagian orang tua mendukung PJJ, sistem pembelajaran dari rumah bukan tanpa hambatan.
Salah satu kendala paling umum berkaitan dengan ketersediaan perangkat. Ada keluarga yang hanya memiliki satu telepon seluler untuk digunakan beberapa anggota keluarga sekaligus.
Selain itu, tidak semua orang tua memiliki kemampuan yang sama dalam menggunakan aplikasi pembelajaran. Kondisi tersebut membuat sekolah harus memberikan fleksibilitas ketika siswa mengalami kendala mengikuti kelas daring.
Ada pula orang tua yang membawa telepon seluler saat bekerja. Akibatnya, beberapa siswa baru dapat mengakses materi setelah orang tua kembali ke rumah.
Karena itu, PJJ membutuhkan pola belajar yang lebih fleksibel. Sekolah tidak bisa hanya memindahkan pola kelas tatap muka ke layar ponsel tanpa menyesuaikan kondisi keluarga siswa.
Di sisi lain, pembelajaran tatap muka tidak bisa langsung menjadi pilihan utama apabila udara masih terganggu asap.
Sekolah harus mempertimbangkan kondisi setiap wilayah karena dampak karhutla tidak selalu merata. Kecamatan yang dekat dengan titik kebakaran tentu dapat mengalami situasi berbeda dibandingkan sekolah di wilayah yang lebih jauh.
Dinas Pendidikan Banjarbaru sebelumnya juga menyiapkan pendekatan fleksibel. Sekolah dapat menentukan apakah masih membutuhkan PJJ, menjalankan PTM, atau menggunakan PTM dengan penyesuaian waktu berdasarkan kondisi lingkungan masing-masing.
Pendekatan ini cukup relevan karena kondisi kabut asap Banjarbaru dapat berubah dalam waktu singkat. Pagi hari bisa terasa pekat, sementara beberapa jam kemudian jarak pandang dan kondisi udara dapat membaik.
Besarnya area terdampak kebakaran menjadi alasan kewaspadaan belum boleh diturunkan.
Data BPBD Kota Banjarbaru menunjukkan luas area karhutla mencapai 1.263,2 hektare dalam dua bulan terakhir. Pemerintah juga membentuk tiga posko penanganan karhutla untuk memperkuat operasi petugas di lapangan.
Satu posko berada di Jalan Tambak Buluh. Sementara itu, dua posko lain ditempatkan di kawasan Jalan A Yani Kilometer 21, Kecamatan Liang Anggang.
Petugas tetap harus mengantisipasi hotspot baru karena kondisi lahan dan cuaca masih mendukung terjadinya kebakaran.
BMKG pada prakiraan 1-6 September 2026 menyebut hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terkonsentrasi terutama di Kalimantan. Sebaran asap juga masih terpantau di sejumlah wilayah dan dapat bergerak mengikuti arah angin.
BMKG memprakirakan curah hujan rendah masih mendominasi sebagian besar wilayah Kalimantan pada periode akhir Agustus hingga pertengahan September 2026.
Lembaga tersebut juga mencatat kondisi kering masih kuat, meskipun peluang hujan lokal tetap ada. Hujan yang terjadi pun dapat bersifat sporadis dan berdurasi singkat sehingga belum tentu cukup untuk menghilangkan risiko kebakaran secara menyeluruh.
Karena itu, masyarakat tetap diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan api. BMKG juga meminta warga segera melapor apabila melihat indikasi hotspot atau kebakaran.
Langkah pencegahan menjadi sangat penting. Satu titik api baru dapat menghasilkan asap tambahan dan kembali memperburuk kondisi udara di kawasan permukiman maupun sekolah.
Ketika kabut asap Banjarbaru masih terlihat, keputusan terkait sekolah idealnya tidak hanya mempertimbangkan target akademik.
Kesehatan dan keselamatan siswa perlu masuk dalam evaluasi harian. Terlebih lagi, anak-anak harus melakukan perjalanan dari rumah ke sekolah dan berpotensi menghabiskan waktu di luar ruangan.
Kemendikdasmen sebelumnya juga merespons dampak karhutla di Kalimantan dengan menyiapkan protokol pembelajaran darurat. Pemerintah menyiapkan antara lain masker medis, paket kesehatan, modul pembelajaran, hingga rencana ruang kelas aman asap di wilayah terdampak.
Selain itu, pemerintah memberi fleksibilitas penggunaan dana BOP dan BOS untuk mendukung kebutuhan darurat terkait kabut asap. Pemantauan kondisi pembelajaran juga dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU.
Artinya, opsi PJJ merupakan salah satu instrumen perlindungan siswa, bukan sekadar perubahan metode belajar.
Situasi karhutla tidak selalu sama di setiap kecamatan. Karena itu, kebijakan yang terlalu seragam berpotensi kurang efektif.
Sekolah yang berada dekat kawasan terdampak mungkin perlu mempertahankan PJJ lebih lama. Sebaliknya, sekolah di wilayah dengan udara lebih baik dapat mempertimbangkan PTM terbatas.
Beberapa pilihan yang dapat digunakan antara lain:
Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak harus memilih antara PJJ penuh dan PTM penuh secara kaku.
Sebaliknya, keputusan dapat berubah mengikuti perkembangan karhutla dan kondisi udara di lingkungan masing-masing.
Komunikasi menjadi bagian penting selama kabut asap Banjarbaru belum mereda sepenuhnya.
Orang tua mengetahui kondisi anak di rumah. Sementara itu, pihak sekolah memiliki gambaran situasi lingkungan sekolah dan kesiapan tenaga pendidik.
Survei kepada orang tua seperti yang dilakukan SDN 4 Syamsudin Noor dapat menjadi salah satu cara mengambil keputusan yang lebih partisipatif. Hasil survei sebelumnya menunjukkan lebih dari separuh orang tua memilih PJJ.
Namun, keputusan tetap membutuhkan evaluasi kondisi udara dan arahan pemerintah. Preferensi orang tua perlu dipadukan dengan data lingkungan agar kebijakan tidak hanya berdasarkan persepsi.
Kabut asap Banjarbaru masih menjadi persoalan ketika sekolah mulai mengevaluasi kelanjutan PJJ. Meski titik api disebut berkurang, BPBD masih menemukan hotspot baru dan mencatat luas karhutla telah mencapai 1.263,2 hektare dalam dua bulan terakhir.
Karena itu, kekhawatiran sebagian orang tua terhadap pembelajaran tatap muka masih dapat dipahami. Di salah satu sekolah terdampak, lebih dari separuh orang tua sebelumnya memilih agar anak tetap mengikuti PJJ.
Namun, PJJ juga memiliki tantangan seperti keterbatasan gawai dan pendampingan orang tua. Solusi paling realistis adalah kebijakan fleksibel yang menyesuaikan kondisi udara di masing-masing sekolah.
bagusplace - Keracunan MBG Sidoarjo menjadi sorotan setelah ratusan siswa dan santri mengalami gangguan kesehatan…
bagusplace - Beras premium 5 kg langka mulai menjadi perhatian setelah produk dalam kemasan praktis…
bagusplace.com - Prabowo Bertemu Presiden Jerman menjadi salah satu agenda diplomasi internasional yang menarik perhatian…
bagusplace - Rupiah menguat pada perdagangan awal pekan setelah pasar menangkap sinyal meredanya tensi antara…